Fashion Connect 2025, Strategi Brand Fesyen Indonesia Menarik Perhatian Pembeli Global
Dalam upaya memperkuat posisi industri fesyen Indonesia di pasar global, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) meluncurkan program Asik Fashion Connect 2025. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi sebelas merk fesyen lokal yang siap unjuk gigi di hadapan pembeli internasional. Langkah ini diharapkan dapat membantu pembangunan ekosistem ekspor yang berkelanjutan dan mendorong kolaborasi antar pelaku industri. Dalam konteks ini, peran pemerintah menjadi sangat penting dalam mewujudkan visi tersebut.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyatakan bahwa sinergi antara berbagai pihak di industri fesyen menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia. “Mari kita saling terhubung dan berkolaborasi untuk mendorong karya kreatif Indonesia ke panggung global,” ujarnya dalam suatu acara di Jakarta.
Dalam acara yang sama, Direktur Fashion Kemenekraf, Romi Astuti, menggarisbawahi pentingnya proses peningkatan kapasitas bagi peserta program. Selain desain produk, kesiapan mental dan strategi bisnis juga menjadi fokus utama agar mereka dapat bersaing di pasar global.
Keberadaan Brand Fesyen Lokal di Pasar Internasional
Sebanyak sebelas brand fesyen lokal telah terpilih untuk berpartisipasi dalam program ini, termasuk Rengganis, KaIND, dan Batik Widayati. Masing-masing brand tersebut memiliki ciri khas dan keunikan, yang bisa menarik perhatian pasar internasional. Melalui Asik Fashion Connect, mereka diberikan kesempatan untuk memperkenalkan koleksi terbaru secara langsung kepada pembeli dari berbagai negara.
Penting untuk diingat bahwa setiap brand harus memiliki strategi yang jelas dalam memasuki pasar luar negeri. Ini mencakup pemahaman tentang selera konsumen yang beragam dan adaptasi produk sesuai kebutuhan pasar. Kurasi yang dijalani peserta juga bertujuan untuk mengasah kemampuan mereka dalam melakukan strategi pemasaran yang efektif.
Dengan adanya dukungan dari Kemenekraf, brand-brand ini tidak hanya mendapatkan akses pasar, tetapi juga pengetahuan tentang trend dan preferensi konsumen internasional. Program ini diharapkan menjadi jembatan bagi mereka untuk melebarkan sayap sampai ke pasar global.
Tantangan di Balik Peluang Ekspor Fesyen
Meskipun ada peluang terbuka lebar, pelaku usaha fesyen masih menghadapi banyak tantangan. Menurut Resky Noviana, pendiri brand Anantari, tantangan terbesar adalah menentukan negara tujuan ekspor yang sesuai dengan produk mereka. “Kami masih membutuhkan pendampingan untuk melakukan riset pasar yang mendalam,” jelasnya.
Setiap negara memiliki karakteristik selera yang berbeda-beda, sehingga penting bagi pelaku usaha untuk melakukan riset sebelum melakukan ekspansi. Misalnya, menyasar pasar Malaysia memerlukan analisis yang teliti agar produk yang ditawarkan bisa diterima dengan baik.
Tantangan lainnya adalah mencari buyer yang tepat, yang memiliki kesesuaian dengan produk yang ditawarkan. Kebangkitan pasar global tentu membawa kesempatan, namun juga memerlukan strategi yang matang agar produk lokal bisa bersaing.
Pentingnya Riset Pasar dan Kolaborasi dalam Ekspor
Riset pasar yang mendalam menjadi kunci untuk memahami ekspansi di pasar internasional. Pelaku usaha perlu menggali informasi terkait tren dan kebiasaan konsumen di negara tujuan. Rekomendasi dari para ahli juga sangat berharga untuk memandu mereka dalam menentukan langkah selanjutnya.
Di samping itu, kolaborasi antar pelaku industri juga sangat diperlukan. Selama proses pelatihan dan workshop di Asik Fashion Connect, peserta belajar banyak dari pengalaman sesama pelaku usaha. Kolaborasi ini tidak hanya tentang berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun jaringan yang kuat.
Dengan kehadiran mentor yang berpengalaman, peserta dibekali dengan strategi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan pasar global. Pendidikan dan pelatihan yang baik mendorong mereka untuk menjadi lebih kompetitif di kancah internasional.




